Senin, 03 Oktober 2016

Lika Liku Dunia


Adakalanya hidup ini tak berarti; darah mengalir begitu saja; nyawa terbuang sia-sia. Manusia dianugerahi Tuhan sesuatu yang dinamai "akal", tapi terus merugi dengan berpegang teguh pada kebodohan. Di dunia yang fana ini, apa ada manusia yang menggerakkan akalnya untuk mencari tujuan hidup? Adakah yang beranjak dari tidurnya, berusaha menemukan alasan mengapa kita dilahirkan?

Adakalanya kita tertawa, padahal jauh di sana, kepingan hati rasanya sulit sekali kembali direkatkan. Kadang kita menangis, meski tahu masih ada secercah asa dan cahaya. Manusia sang penipu ulung, bukan hanya penipu sesama, tetapi membohongi hati kecilnya sendiri, lalu tertawa--lagi.

Adakalanya aku merasa akan hidup satu milenium lamanya, menyaksikan era berganti satu demi satu. Namun, sekali saja aku tersandung kerikil, kupikir lebih baik menyudahi hidup. Kehidupan adalah panggung sandiwara, dengan aku sebagai tokoh utamanya. Aku sosok yang paling sengsara, menutup mata dari orang-orang di bawahku yang mengiba, meminta secuil belas kasih.

Adakalanya orang bilang aku sesuci malaikat, sejernih telaga di awang-awang, seputih kertas yang baru selesai dicetak. Hahaha. Sanjungan belaka. Aku muak, tapi suka diayun-ayun begitu. Manusia itu sudah egois, munafik pula. Hahaha. Itu aku.

.

.

.

Itu aku--diriku yang mengaku-aku rapuh.

Kalau kukatakan seperti itu, kamu percaya?

.

.

.

Mungkin aku malaikat yang terkurung dalam neraka, mungkin juga setan yang tersesat di surga. Sebenarnya aku acuh tidak acuh, jadi jangan khawatir. Lika-liku dunia menjadikan struktur pikiranku tak lagi beraturan; membuatku terombang-ambing.

Kalau sudah seperti ini, bagaimana?

TAMAT

ditulis oleh Zahra Annisa Fitri
foto dari Favim, diedit melalui Canva

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak dengan bahasa yang baik. Terima kasih.. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...