Rabu, 28 September 2016

[Cerpen] Ceri Merah


Hujan, lagi, dan payung tertinggal di garasi rumah, lagi. Langkahku menimbulkan cipratan air, lagi dan lagi. Bahkan saat kuputuskan berhenti sejenak di bawah pohon—bukan bermaksud berteduh, hanya terengah-engah saja—tidak ada lagi buah berwarna merah yang memikat hati seperti biasa.

Bentuknya mungil, berayun-ayun di ujung ranting, dan rasanya manis—kecuali kalau kamu sedang bernasib buruk. Biasanya mudah sekali menemukannya, seperti mencari semut di sekitar gula. Akan tetapi, kelihatannya sudah tiba masa untuk bermalas-malasan?

Aku mendongakkan kepala, berharap bisa melihat lebih jauh ke sela-sela dedaunan. Sesekali mengaduh juga bila kacamataku menjadi tempat mendarat tetesan air hujan. Namun, ke mana pun mencari, warna merah menggoda belum juga didapati mata.

Mungkin, semuanya sudah berubah, hingga pohon ceri pun tega membuatku kecewa seperti ini.

Dalam memoriku, setiap kali aku berhenti di sini, aku akan tergelak. Ceri merah yang mungil itu menjadi sebab pertengkaranku denganmu—kekanak-kanakan sekali, padahal sudah memakai seragam putih abu-abu. Sementang tubuhmu jauh lebih menjulang dibandingkan aku, bibirmu selalu mengolok-olokku, mencelaku yang tidak bisa mengambil buah ceri sendiri.

Dasar kurang ajar. Kamu sudah tahu, tapi seolah melupakan aku dan sabuk merahku.

Ah, lagi-lagi merah.

Warna merah kian membayang-bayangi pikiranku, tapi mataku tidak kunjung menemukan ceri merah. Semuanya hijau; semuanya belum matang; semuanya masih menunggu waktu.

Kalau aku katakan begini, mungkin kamu akan bertingkah seolah-olah ingin muntah. Akan tetapi, untuk 20 detik saja,  aku ingin menatap irismu dan berbicara dengan serius. 

“Maukah kamu menghampiriku sekarang seraya membawa payung, lalu menemaniku di sini menanti buah ceri yang akan memerah ini?”

Jika ya, aku akan kembali menghiasi lembaran hariku dengan warna-warna yang cerah—kamu boleh meminta bantuanku untuk mengisi lembaran harimu juga. Jika tidak, aku akan mengubah pertanyaannya. Jadi, dengarkan baik-baik. 

“Maukah kamu menghampiriku satu dekade lagi, meraih jemari manisku, lalu menyematkan cincin platinum berdiameter sama seperti buah ceri yang akan memerah ini?”

Sambil merindukan sosokmu yang selalu tertawa di dalam mimpiku, mataku mencari ceri merah sekali lagi, kemudian kembali menerobos hujan sebelum senja menjelang.

TAMAT


Ditulis pada tanggal 28 September 2016
oleh Zahra Annisa Fitri (Miichan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak dengan bahasa yang baik. Terima kasih.. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...