Senin, 23 Mei 2016

QUICK

QUICK


Language: Bahasa Indonesia
Rated: Teen
Genre: Hurt/Comfort & Angst
Charas: Levi A., Petra R., Auruo-Gunther-Eld, Mikasa A.

SUMMARY
"Begitu cepat. Begitu sebentar."


-HAPPY READING-

Segalanya berlalu bagaikan seorang ahli yang berayun menggunakan manuver 3DMG—cepat; benar-benar cepat. Padahal hanya ditinggal sebentar, tapi kadang yang sebentar itu yang membekas di dalam hati.

Dari awal kita semua sudah tahu bahwa—frontal saja—bersedia menjadi anggota Pasukan Penyelidik berarti bersedia pula kembali ke pangkuan-Nya. Akan tetapi, bukan manusia namanya jika ego tidak bermain, meskipun hanya sedikit. Orang-orang akan terus mencoba menyalahkan seseorang untuk suatu masalah. Atau malah.. menyalahkan diri sendiri?

Yang satu tergantung terbalik. Yang satu lagi terbaring begitu saja dengan setengah badan hilang. Yang lainnya terkapar agak menghadap ke tanah. Sedangkan yang terakhir, dengan darah dari hidung dan mulutnya yang mengalir hingga pelipis kanannya, dalam posisi badan tidak berdaya menghadap pohon—kepalanya menengadah seolah-olah langsung menatap Tuhan dan bertanya, “Begini juga akhirnya?”

Pasukan yang dibanggakan pun mengadakan sebuah reuni tanpa ucapan.

Reuni yang benar-benar bisu.

***

Pagi itu agak berawan. Tanah kosong berisikan barisan yang rapi tanpa sedikit saja cela. Mereka dipimpin oleh komandan baru. Komandan Erwin—itu namanya—memberikan introduksi singkat sebelum menyampaikan sedikit pidato.

Pria setinggi 160 cm berada beberapa meter di belakangnya; tengah melipat kedua tangan di dada. Matanya yang gelap memperhatikan satu persatu batang hidung para anggota yang tengah berbaris.

Ada yang tampak begitu serius mendengarkan ceramah sang komandan, ada pula yang seolah berkata mengapa-dia-tidak-berhenti-berbicara-saja.

Kebanyakan dari para kadet memiliki postur tubuh yang tinggi—jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan dirinya. Hingga akhirnya dia menemukan seseorang yang agaknya lebih pendek darinya. Ekspresi kelam itu seketika agak cerah.

Walaupun sosok yang lebih pendek itu adalah wanita, sih.

Diingat-ingat lagi, sepertinya Levi pernah melihat wajah itu entah di mana. Surai rambut ‘si pendek’ yang berwarna jahe.. tidak, maksudnya agak sedikit lebih terang dari jahe, juga iris mata kuning sawo itu, memancarkan kemilau cahaya yang luar b—

“—dan ini, Levi Ackerman, mulai hari ini menjadi ketua Special Operations Squad.”

Tiba-tiba dipanggil, Levi terpaksa melepaskan perhatiannya dari gadis itu. Levi melangkah maju sambil mengedarkan pandangan.

“Aku, Levi Ackerman,” Dari nadanya, semua juga tahu bahwa dia malas sekali berbicara. “Intinya, kalau aku menjadi ketua, akan ada beberapa bocah yang menjadi bawahanku. Yang merasa aku sebutkan, maju.”

Sedari tadi, Levi memang membawa lima lembar kertas—satu lembar sebagai cover dan empat lainnya berisikan profil anggota yang dia pilih tadi malam. Kini, dia membaca nama-nama yang tertera di lembaran putih tersebut.

“Gunther Schultz,”

Langkah kaki seseorang terdengar tak lama kemudian. Pemuda berkulit agak gelap dan tinggi tubuh rata-rata keluar dari barisan, lalu memberikan salam dengan cara meletakkan tangan kanan yang mengepal di dada kiri. Yang bernama Gunther itu kemudian berdiri di sebelah Levi—agak di belakangnya sedikit.

“Eld Gin,”

Muncul lagi seorang pemuda dari barisan. Kali ini memiliki mata cokelat yang kecil dan rambut blonde yang diikat. Ada sedikit janggut di dagunya. Sama seperti sebelumnya, Eld memberi salam dan berdiri di sebelah Gunther.

“Auruo Bossard,”

Levi memperhatikan postur Auruo. Di profil yang ia baca, umurnya tidak jauh beda dengan rekannya yang lain, tetapi wajahnya terkesan tua. Rambutnya agak keriting. Diperhatikan lagi, gaya berpakaian Auruo entah mengapa terkesan sama dengan sosok yang dilihatnya setiap kali menghadap cermin.

“Petra Rall,”

Yang terakhir ini, berbeda dengan yang lain. Hanya dia satu-satunya anggota perempuan dalam Special Operations Squad. Tapi dilihat dari CV Petra, dia juga satu-satunya anggota yang berhasil membunuh 45 lebih titan bersama kelompok.

Malam itu, Levi menghabiskan waktu dengan anggotanya yang baru. Awalnya terkesan canggung, apalagi Levi memang bukan tipe yang ramah, sehingga pertemuan itu berakhir canggung juga. Satu persatu bawahannya pamit untuk beristirahat, meninggalkan Levi yang masih asyik menyeruput kopi seraya membaca laporan serahan Erwin seusai upacara.

“Maaf, Heichou,” Suara yang lembut sayup-sayup terdengar di telinga Levi. “Kopinya.. lagi?”

Rambut hitam lurus itu sedikit bergoyang ketika Levi menolehkan kepala.

“Oh, kau,”

Petra mengangguk. “Saya ingin mencuci peralatan makan, termasuk teko ini. Apa Anda ingin menambah kopi lagi—mungkin nanti?”

Levi yang telah kembali membaca lantas menjawab tanpa melihat wajah Petra. “Aku kira, iya,”

“Baik. Saya tinggal di sini, Heichou,”

“Hn,”

Levi yang sebelumnya tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari rekannya, sejujurnya, merasa agak kaget. Tentu dia memiliki rekan wanita sebelumnya. Hanji Zoe, iya kan? Tapi, jelas-jelas Hanji tidak pernah—dan tidak akan—bersikap seperti itu kepadanya. 

Kalau ingin kopi, pasti membuat sendiri. Malah sering juga, dengan seenak jidatnya, Hanji meminta dibuatkan kopi juga oleh Levi. Kadang Levi setuju saja di dalam diam. Kadang juga Levi membuatkannya, lalu meletakkannya kasar hingga sebagian tumpah di hadapan Hanji.

“Buat sendiri lain kali, bodoh,” Itu yang dikatakannya sebelum berlalu.

Tapi, mulai hari ini ini, semua tampaknya akan berubah.

***

Levi sebenarnya tidak begitu suka bersosialisasi. Awal bergabung dengan Pasukan Penyelidik.. ah, tidak. Bahkan saat-saat pertama berkenalan dengan Farlan pun, dia merasa asing. Dia merasa bahwa dia lebih senang di dalam kesendiriannya, hingga lama-lama Farlan—juga Isabel—menjadi bagian hidupnya. Sama halnya Levi dengan teman-temannya sepasukan, kini Levi sudah mampu berbaur dengan caranya sendiri.

Yah, dia juga pasti mampu beradaptasi dengan ‘orang-orang asing’ ini dengan cepat.

***

Levi merasa ada yang menggoyang-goyangkan bahunya sedikit keras.

“Ano, Heichou?”

Kedua kelopak mata itu dengar berat membuka. Dilihatnya gadis berambut tidak begitu pendek itu sudah ada di hadapannya lagi.

“Ano.. Maaf bukan maksud saya membangunkan Heichou, tapi .. itu, apa Anda tidak ada rencana hari ini?”

Seketika dia teringat sesuatu.

“Sekarang jam?”

“Eh?” Ditanya tiba-tiba begitu, mungkin membuat Petra agak terkejut. “Jam.. jam tujuh lewat,”

“Sial,”

Levi bangkit sedikit kasar, lalu melangkah meninggalkan Petra menuju ke ruangannya sendiri. Dia menyadari ada yang berbeda dari saat-saat jika dia terbangun apabila tertidur saat bergadang.

.. ada kain yang terjatuh dari punggungnya ketika dia bangkit.

***

“Tadi malam kau meletakkan kain di punggungku, ya?”

“Eh? I-Iya, Heichou. Saya kira.. setidaknya selimut tipis bisa menghangatkan Anda dari dinginnya malam,” sahut Petra. Dia kembali menuangkan kopi dari teko setelah selesai menjawab pertanyaan atasannya.

“Hn,”

“Anu.. Apa Heichou.. tidak suka?” Gantian Petra yang bertanya. Levi mengangkat wajahnya. “Ah, maksud saya, kalau Anda tidak suka.. saya tidak akan melakukannya lagi,”

“Tidak, tidak juga,”

“Ah, baik..”

***

Satu demi satu hal mulai berubah ketika Levi memiliki anggota kelompok yang baru. Dia merasa lebih mudah untuk bercengkerama dibandingkan sebelumnya. Rekan-rekannya yang baru tampak lebih memperhatikan saat dia buka suara. Kadang-kadang, salah satu dari mereka melempar guyonan sehingga suasana tidak terasa kaku.

Tidak hanya di lingkungan mereka. Levi menjadi lebih mudah berkomunikasi—tentu dengan gayanya sendiri—dengan rekannya di luar Special Operations Squad.

Levi perlahan-lahan mampu beradaptasi dengan sesuatu yang sebelumnya dianggapnya begitu asing.

Sama halnya dengan gadis itu.

Awalnya, dia asing setiap kali melihat parasnya. Tapi sekarang, senyum manisnya telah menjadi sarapannya setiap pagi.

***

“Lihat! Kau pasti memakai cara bicaramu yang aneh itu lagi, kan? Kau terus berbicara seperti itu sampai menirukan cara bicara Heichou. Kumohon hentikan kebiasaan bicara anehmu itu,”

“Hmph! Kenapa kau jadi menyuruhku, Petra? Apa kau juga ingin menyuruhku untuk berhenti bertingkah seperti suamimu?”

“Kau itu terlalu sombong. Bukankah kau bisa sampai di sini hanya karena Heichou memilihmu? Kau harusnya menggigit lidahmu sampai terpotong dan mati saja sana,”

“Meskipun itu candaan, itu sama sekali tidak lucu mengharapkan aku mati,”

Belum sempat Petra membalas, seseorang datang menengahi mereka berdua.

“Oi! Kalian ini! Kalian kira sapu dan kemoceng itu apa sampai bisa kalian anggurkan?”

Keduanya seketika mengambil sikap sempurna dan menghormat, “Siap, Heichou!”

“Maafkan kami, kami tidak bermaksud .. “

“Kembali bekerja,” Levi berhenti. “Ayo kita bekerja ekstra,”

“Siap!”

Petra tampak kembali menyapu lantai, sedangkan Auruo mencoba menggapai sudut-sudut ruangan yang penuh debu.

“Hei, Petra,”

“Iya, Heichou?”

“Aku rasa aku butuh bantuanmu di bagian sana,” Telunjuk Heichou mengarah ke ruang makan. “Lantainya kotor,”

“Saya mengerti, Heichou,”

“Auruo, sapu ini setelah kau selesai dengan itu,”

“Baik, Heichou,”

Heichou mengikuti langkah Petra menuju ruang makan. Sebelum Petra mulai menyapu, Heichou menarik sebuah kursi untuknya, juga kursi yang ada di hadapannya. “Duduk,”

“Eh?” Gadis itu terlihat bingung. “Maaf, Heichou ... ?”

“Duduk kubilang,”

“Ah, baik, Heichou,”

Dia menyandarkan sapu ke dinding dengan hati-hati, kemudian berjalan ke arah meja makan dan duduk di bangku yang telah disediakan.

“Dari mana kau tahu bahwa cara berbicara Auruo menirukanku, eh?”

Petra terdiam sejenak. “Perasaan saya sendiri, Heichou. Dan.. saya rasa memang begitu adanya,”

“Hanya kau?”

“Saya rasa, Gunther dan Eld juga berpikiran seperti itu,”

“Lalu, mengapa hanya kau yang protes?”

“Ah, masalah yang tadi, Heichou? Bukankah di ruangan itu, hanya ada saya dan Auruo? Jadi—”

“Aku melihat di setiap kesempatan sebelumnya, ketika mereka berdua ada di antara kalian, atau bahkan ketika aku jelas-jelas berada di hadapan kalian, hanya kau yang melakukan itu,”

“Anu.. Apakah itu mengganggu Anda, Heichou?” Petra justru menjawab dengan sebuah pertanyaan.

“Aku hanya ingin tahu kenapa,”

“Ah, saya—“ Gadis itu seperti ingin berbicara, tapi apa yang ingin keluar tertahan di tenggorokannya. “—mungkin, saya merasa tidak nyaman mendengarnya. Saya juga merasa Anda mungkin akan terganggu jika dia terus berbicara seperti itu,”

“Kenapa?”

“Eh? Tentu saja kita kesal jika seseorang seolah-olah mendupli—”

“—Bukan itu. Maksudku, kenapa kau sepeduli itu?”

Petra terdiam. Tidak sama seperti sebelumnya. Kali ini, ‘diam yang benar-benar diam’.

“Anu.. Soal itu..”

“Kenapa?”

“Saya—“

“—Dari penglihatanku, kau seperti tahu lebih banyak tentang aku dibanding aku terhadap diriku sendiri. Aku sebenarnya tidak mengacuhkan hal-hal sekecil itu, dan mungkin itu sebabnya aku bahkan tidak tahu dia sedang mengikuti gayaku atau tidak,”

“Sebenarnya.. saya, sejak sebelum menjadi anggota regu Anda pun, saya telah memperhatikan Anda di setiap ekspedisi. Saya merasa bahwa Anda adalah sosok prajurit pasukan penyelidik yang sesungguhnya. Saya banyak belajar dari Anda. Saya kagum kepada Anda. Saya .. “ Lagi-lagi ia berhenti berbicara.

“Saya?” Levi memberi isyarat agar Petra melanjutkan kata-katanya.

“Mungkin, karena saya sangat kagum kepada Anda, tanpa sadar saya menjadi peduli—benar-benar peduli kepada Anda,”
Levi bergeming sejenak, membuat Petra yang berada di hadapannya menjadi sedikit gugup. Apa aku salah berbicara atau telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya, dia terus mengulang-ulang pertanyaan itu.

“Ya sudah. La—”

“—Saya ingin mengabdi kepada Anda,”

Ucapan itu tampaknya terlontar dengan sendirinya dari bibir ranum seorang Petra. Dia buru-buru berkata, “Ah! Saya khawatir membuat Anda salah paham. Maksud saya—”

“Tidak, tidak. Aku mengerti,” sela Levi cepat. Petra kembali mengatupkan mulutnya dan mengangguk. Wajahnya terlihat begitu senang.

“Lanjutkan pekerjaanmu,”

“Baik, Heichou,”

***

“Kalau kau melakukan tugasmu dengan benar untuk melindungi Eren.. ini tidak akan pernah terjadi,” lirih gadis bersyal merah itu dengan tajam.

Levi melirik wajahnya sebentar. “Kau temannya Eren yang ada di persidangan, kan?”

Dia tidak menjawab, hanya menatap Levi begitu dalam untuk menunjukkan kebenciannya—sekaligus kesedihan yang dia rasakan.

“Aku mengerti,” Levi berbisik dan kembali menghadap ke depan. “Kita harus mempersempit tujuan kita. Pertama, kita harus menyerah dalam menangkap titan wanita ini. Kita hanya akan menyelamatkan Eren. Kau, alihkan perhatiannya. Dan aku—” Pria itu menahan ucapannya sebelum mengeluarkannya dengan penekanan di setiap kata. “—akan memotong tubuhnya,”

Mereka mengejar titan itu dengan cepat. Semua sesuai rencana. Levi mendapat kesempatan untuk memotong tubuh si keparat ini.

Dalam sekali lihat, Levi tahu betapa sedihnya gadis yang tengah mengalihkan perhatian titan wanita. Levi tahu bahwa Mikasa ingin mencabik-cabik setiap inchi daging yang melekat pada tubuh titan wanita. Levi tahu keinginan Mikasa sehingga ia menekankan kepada gadis Ackerman itu bahwa tujuan mereka hanya mengambil kembali Eren.

Levi tahu, tetapi gadis itu tidak. Dia tidak tahu kesedihan Levi yang sekian kali lipat lebih banyak dari yang dia rasakan. Dia tidak tahu, dan tampaknya tidak akan pernah tahu bahwa Levi jauh lebih ingin menggoreskan pedangnya kepada titan wanita itu.

Levi pasti ingin menghabisinya sekarang juga.

Pasti.

Tapi itulah Levi.

Levi memikirkan hal yang harus dicapai dengan waktu yang begitu sebentar, tanpa sempat memikirkan ego dan perasaannya sendiri. Levi membuang banyak hal sehingga keputusannya terucap dalam waktu yang sangat sebentar. Sama sebentarnya dengan waktu dia berhasil menghilangkan kata ‘asing’ dari regu barunya, dulu, khususnya kepada gadis itu.

Sama sebentarnya juga dengan waktu kebersamaannya bersama gadis itu. 

Gadis itu.

Dan gadis itu.

Sedari tadi itu yang dipikirkannya.

Gadis itu, gadis yang menaruh kepedulian teramat besar kepadanya, kini jasadnya telah bersimbah darah dan berpisah dengan ruhnya tanpa sempat berkata “selamat tinggal” atau kata-kata serupa.

Levi merasa waktu miliknya berjalan begitu cepat, membuat segalanya menjadi sangat sebentar dan terburu-buru.

Tapi, hanya gadis itu yang bisa mengerti perasaannya. Bahkan gadis itu bisa mengerti apa yang tidak ia mengerti.

Gadis yang kini tidak lagi bisa menyuguhkan secangkir kopi untuknya.

.

.

.

Tidak. Dia tidak lagi bisa memikirkan perasaannya sekarang. Dia harus melupakan apa yang telah terjadi sejenak, lalu fokus terhadap apa yang dia gapai.

.

“Eren..”

“Cepat! Lupakan titan itu! Ingatlah tujuan dari rencana ini! Kau tidak perlu melampiaskan keinginanmu sendiri! Dia adalah temanmu yang sangat berharga, kan!?”

Begitu cepat mereka mengambil Eren kembali. Begitu sebentar waktu yang mereka gunakan untuk menyelesaikan misi mereka berdua.

Begitu cepat.

Begitu sebentar.

.

“Sampai jumpa lagi suatu waktu—saat waktuku yang cepat dan sebentar ini selesai juga,”

-END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak dengan bahasa yang baik. Terima kasih.. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...