Senin, 29 Juni 2015

[Detective Conan's Fanfic] Kimi no Egao

Minna~
Sudah sekian lama Miichan hiatus, gomennasai ne (T^T) Sebenarnya, Miichan sangat merindukan saat-saat ngeblog seperti ini. Oh iya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya (^^)

Kesempatan kali ini, Miichan ingin mengepos fanfiction dari fandom Detective Conan. Fanfiction ini sebelumnya pernah Miichan sertakan dalam sebuah lomba, namun belum menang. Karenanya, Miichan pos di sini saja (^^)



Kimi no Egao
(Senyumanmu)
.
.
A ShihoXShinichiXRan fanfiction
A second POV fanfiction
.
Plots are mine but Detective Conan belongs to Aoyama Gosho-sensei
.
Also, thanks to someone that gave me an inspiration for make this fanfic XD.
Happy reading!
.
Semilir angin berhembus pelan, namun mampu melayangkan satu dua kelopak sakura yang telah gugur. Bersamaan dengan itu, teriakan lantang guru olahraga memenuhi seisi lapangan. Murid-murid yang telah bersiap lantas berlari dengan cepat, mengikuti jalur yang ada hingga menemukan garis akhir.

Salah satu dari sekian murid itu.. adalah dia. Rambut hitamnya yang pendek tampak berkibar bagai bendera hinomaru.

Hei, itu terasa menyakitkan bukan?

Tak bohong jika kujabarkan seperti ini. Kau menatap langkah demi langkah pasti milik pemuda itu saat ia berlari, lalu hampir menjerit gembira ketika ia menjadi nomor satu. Sesaat kemudian, semua sirat kebahagiaan di wajahmu tampak hilang bagaikan salju di musim panas. Tatkala gadis bersurai panjang itu datang membawakan botol minum.

“Shinichi, haus?”

Pasti menyakitkan.

*****

Yang menyengsarakan bukan bagaimana gadis itu memberikan perhatiannya kepadanya. Yang menyengsarakan adalah jika perhatiannya dibalas, tidak sama seperti milikmu.

Yang menyengsarakan bukan bagaimana ia mendapat besarnya perhatian dari gadis itu. Yang menyengsarakan adalah saat ia tertawa atau tersenyum begitu lebar–tidak seperti biasanya–setiap kali menaruh pandang kepada gadis itu.

Sedangkan padamu, bagaimana ia bertindak?

*****

Kau hanya mampu berpikir dan terus berpikir untuk memulainya, namun tak pernah bertindak. Jika tidak begitu, kau tidak akan sekadar duduk manis di mejamu sambil bertopang dagu. Hei, hati-hati, nanti rambutmu kusut.

Walau belum sekusut hatimu, ya kan?

“Shiho, kau sakit?” Tiba-tiba gadis itu memunculkan wajahnya tepat di hadapanmu. Awalnya kau seperti ingin terpekik kaget, namun kini terlihat  sudah bisa menenangkan diri.

“Tidak, kok,” sahutmu dengan tatapan seperti biasa. Kosong, sayu, sedangkan bibirmu yang mengatup mengulas senyum tipis. Tipis sekali.

“Jangan paksakan dirimu. Kalau sakit, biar aku antar ke UKS,” lanjut sang gadis lembut. Di belakangnya, ia terlihat berdiri sambil meletakkan kedua tangan di belakang kepala, ikut melihat ke arahmu.

Nah, bukankah semestinya kau senang?

“Tidak perlu. Aku baik-baik saja,” Lagi-lagi menjawab dengan ketus.

“Hoi, Miyano, kau ini lembut sedikit bisa tidak, sih?”

“Oh, harus begitu?” jawabmu menantang kepadanya, membuat alisnya yang hitam mengerut sebal. Sementara gadis itu–Ran Mouri namanya, hanya terkekeh pelan diikuti ekspresinya yang lembut.

“Sudah, jangan bertengkar lagi,”

Sangat manis bukan? Baik tindakan maupun ucapannya. Seperti gulali yang sering dijajakan di matsuri. Sampai-sampai kau tertegun melihatnya.

Jadi katakan.. mampukah kau mengalahkan pesaing terberatmu itu?

*****

Cinta. Mudah saja kau berikan kepada seseorang. Tapi sulit untuk mendapatkannya, juga sulit menarik kembali cinta yang telah kau berikan itu. Cinta pula yang memberikan kebahagiaan dan kesengsaraan dalam hidup. Lagi-lagi cinta, yang membangkitkan semangat dan memupuskan harapan. 

Adakalanya cinta memberikan mimpi-mimpi baru dalam hidup. Dan adakalanya juga, cinta yang menghapus seluruh mimpi yang kita punya. Dapatkanlah itu, rasakanlah kebahagiannya, menjadi nekatlah, tertawa atas momentum yang berharga itu, tapi mungkin di saat terakhir.. Terkadang setelah semua kebahagiaan itu, tumpahkanlah semua air matamu menjadi satu samudera luas. Yang tak akan mampu kauhitung. 

Bukankah begitu, Shiho Miyano?

*****

Sekarang adalah pelajaran kelima, pelajaran ilmu sosial. Kau tidak dapat menyembunyikannya dari ekspresimu, bahwa kau paling suka dengan subjek yang satu ini. Kau sangat antusias di dalam ketenangan. Bagai ikan kecil yang tiba-tiba melompat dari dalam kolam di pekarangan rumah.

“Jadi.. coba beritahu tentang ...”

Satu persatu pertanyaan mulai dilontarkan oleh sang sensei, kemudian murid-murid diperbolehkan berisik untuk berebut mengatakan jawaban dan mendapat nilai tambah. Tak ada yang mau kalah, tapi tak semua jawaban adalah benar.

“Yak, Miyano, coba katakan,”

“Di zaman Shouwa, menjelang akhir letusan perang dunia kedua,” 

Sensei ilmu sosial bertepuk pertanda jawabannya benar. Diikuti sorakan dari teman-temannya yang lain.

“Miyano, jangan semuanya diembat!”

“Sesekali berbagi jawaban, Miyano!”

“Shiho, jangan-jangan ada mesin pencari di internet dalam otakmu, ya!?”

Teman-teman akan memecahkan tawa mereka masing-masing, sedangkan kau hanya mengangkat sedikit kedua sudut bibirmu. Tak ada bedanya dengan dia. Pemuda itu, Shinichi Kudo, yang saat ini tengah tertawa lepas seperti tidak terkendali.

Kelihatannya, dia selalu tertawa seperti itu setiap jam ilmu sosial dimulai.

Ah, apa jangan-jangan, kau menyukai pelajaran ilmu sosial karena ini!?

*****

Memang benar mitos tentang rival cinta terbesar yang kita punya adalah teman kecil dari orang yang kita sukai. Kau tidak dapat mengelaknya, Shiho, sungguh tak bisa disanggah lagi sekali pun ini adalah debat.

Mungkin kau pernah membuatnya tertawa satu kali, tapi teman kecilnya pasti membuatnya tertawa lima kali. Atau jika kau dapat melihat senyum terukir karena dirimu sebanyak lima kali, tampaknya teman kecilnya melakukannya lebih dari sepuluh kali.

Tapi, menurutku adalah baik untukmu untuk tidak diperhatikan olehnya. Jika kau sebenarnya tidak tahu harus melakukan apa saat kedua mata bertemu, lalu untuk apa kau mendapatkan semua itu?

*****

Meski mustahil di dunia nyata
Namun bermimpi dan berangan berulang kali selalu menjadi hak kita
Karenanya aku tak pernah berhenti
Untuk membayangkan kau terus menunjukkan tawa karena diriku

-Shiho Miyano-

-END-

FYI, ini fanfiction pertama Miichan yang menggunakan second POV.
Karenanya, mohon kritik, saran, dan komentarnya, minna!

Jaa mata nee~ (^^)

4 komentar:

Tinggalkan jejak dengan bahasa yang baik. Terima kasih.. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...