Minggu, 18 Januari 2015

[Fic] Karena Kau (for Gifta's Competition)

Minna~!

Miichan mengikuti lomba membuat cerita di blog lagi (^^) Bagi yang tertarik untuk mengikutinya juga, bisa langsung ke situs utamanya di sini (^^) Dan.. meskipun cerita ini diikutsertakan untuk lomba, Miichan berharap kalian tetap mau membacanya dan memberikan kritik / saran (^^)



Rules

  • Follow blogku. Ok!
  • Follow twitterku dan add FB-ku. Nanti, ya. Omong-omong, twitterku udah jarang dipakai.
  • Memilih min. 2 (max. 5) hadiah kalau menang. Ok!
  • Isi biodata. Ok!
  • Kalau mau ikut, bilang di comment, jangan di CBOX. Ok!
  • Tag 3 orang yang on. Aku tag Sandra, Shacchi, dan Ozan ya (^^)

Biodata
Nama : Zahra Annisa Fitri
E-mail : zahraannisafitri@gmail.com 
Kelas : 8 / 2 SMP
Umur : 13 tahun

Gift

  • 3 Foto artis fav bebas
  • Doodle Girl (5)
  • Doodle Girl (3)
  • Aku editkan foto kamu
  • Buat blog bareng
  • Aku buatkan cerita dongeng
  • Header *cari di Google (3)
  • Banner Simple (1) *own made
  • Gif K-on (5) *cari di Google
  • ID Card simple (2) *own made
  • Req. Tuto. (2) *di post di blogku

Cerita

KARENA KAU
Rintik hujan mulai mengguyur Gifu. Aku memperhatikan tetes demi tetes air dengan saksama. Awalnya aku benci mereka turun di saat yang tidak tepat. Tapi kebencian itu entah mengapa berubah menjadi perasaan kagum.

Ya. Air hujan tidak pernah sendirian. Mereka selalu bersama teman-temannya. Meski angin mulai meniup mereka, meski mereka terpantul di atas payung.. mereka tidak akan meninggalkan temannya yang lain seorang diri.

“Mau pulang bersamaku?”

Suara itu sedikit berat, tapi lembut.

“Yonezawa Ken, dari kelas 3-7. Yoroshiku,”

Aku menoleh, lalu membalas senyumnya. Tanganku menyambut ulurannya untuk bersalaman.

“Hoshino Kana, dari kelas 3-1.”

Yang kuingat, kami berdua pun berjalan beriringan di bawah payung berwarna biru. Canda tawa kami menyelingi suara hujan yang berjatuhan membasahi tanah.

Itulah pertama kali aku bertemu dengannya.

***

Namaku Hoshino Kana. Hidup sebatang kara di rumah kecil yang ditinggalkan orang tuaku. Tak banyak yang dekat denganku. Aku adalah murid yang pendiam dan ragu-ragu, walau banyak yang mengakui otakku cemerlang. Dibuktikan dengan masuknya aku ke kelas unggulan–kelas 3-1.

Awalnya aku cukup akrab dengan beberapa orang. Sampai timbul ketidakcocokan di antara kami. Aku pun menjauh secara perlahan hingga akhirnya hubungan persahabatanku dengan mereka putus.

Setiap ada tugas kelompok, aku hanya berbicara seperlunya. Menyampaikan ideku jika ditanya, itu pun ala kadarnya saja. Teman-temanku terkadang risih denganku. Aku tahu itu, meski mereka tidak pernah menyatakannya terang-terangan demi menjaga perasaanku. Karenanya, tak jarang aku mengajukan diri untuk mengambil alih semua tugas kelompok daripada harus berkumpul dan merasakan kebersamaan yang freak.

Itu menyebalkan, kalian tahu?

Bahkan karena keragu-raguanku ini, aku tidak tahu harus mendaftar ke SMA mana.

***

“Kana-chan!”

Kini, Yonezawa sudah berani memanggilku dengan nama kecil. Bahkan dengan embel-embel –chan. Perbedaan kelas membuat kami jarang bersama, tapi Tuhan sering mempertemukan kami di berbagai tempat. Entah itu di perjalanan berangkat atau pulang sekolah, di supermarket, saat berbelanja di toko daging, maupun ketika aku pergi ke toko buku.

“Mungkin kita berdua sudah diikat dengan benang takdir, lho?”

“Ah, masa?”

Aku menanggapi singkat.

Kami bertemu di awal semester kedua di tahun ketiga sekolah menengah pertama. Keakraban kami dimulai beberapa bulan sebelum kelulusan. Tersirat sedikit rasa sedih menyadarinya. Jika kami sudah lulus, belum tentu kami akan masuk ke SMA yang sama. Masuk di SMA yang sama pun, belum tentu kami satu jurusan. Alih-alih satu kelas.

Mimpi.

Tapi Tuhan adalah Maha Pengabul Mimpi.

“Kana-chan mau masuk SMA mana?”

Aku berpikir sejenak, lalu menyahut, “Inginnya ke SMA Chukyo,”

Saat itu kami tengah berpapasan di bakery di dekat rumahku. Lalu kami putuskan untuk beristirahat sejenak di taman sambil menikmati sepotong roti yang baru dibeli. Aku masih ingat bagaimana ia menaikkan alisnya, kemudian membulatkan matanya dan kembali angkat bicara.

“SMA Chukyo persaingannya ketat, lho,”

“Ya. Sebenarnya, aku pesimis juga untuk masuk. Sempat terpikir untuk memilih SMA yang lain,” timpalku.

“Ah, tapi Kana-chan memang sudah pintar. Pasti masuk! Percaya, deh! Beda dengan aku yang bodoh. Pekerjaan rumah saja kadang-kadang harus menyontek sama Kana-chan,”

Dia tertawa terbahak-bahak.

***

Yonezawa Ken nama lengkapnya. Ia menyarankan agar aku memanggilnya “Ken” saja, tapi aku menolak. Sifatnya yang ceria, humoris, optimis, moodbooster, dan supel itu berbanding terbalik dengan apa yang aku punya. Setahuku, dia cukup populer di sekolah. Penggemarnya cukup banyak, mulai dari yang seangkatan sampai adik kelas 1.

Aku pernah melihat loker seseorang di hari valentine yang lalu. Penuh sekali, sampai tidak bisa menutup. Jika kuingat-ingat, di pintunya tertera nama “Yonezawa Ken”.

Nilai akademiknya tidak begitu dibanggakan, menurutku. Tapi dia termasuk pemain inti dalam klub atletik. Tubuhnya hampir sama denganku, hanya lebih tinggi dua atau tiga senti. Agak mungil dibandingkan teman-temannya yang lain. Meski begitu, ia yang paling lincah. Ia menjadi anchor dalam tim utusan dari sekolah untuk ekiden tahun lalu, dan memenangkannya. Ia juga pemain unggulan di klub sepak bola.

Sejak ia muncul di depanku, kehidupanku terasa lebih.. bagaimana menyampaikannya? Seperti ada sesuatu yang berbeda. Kini, hidup tidak terasa hambar lagi. Ia selalu ada dan memberikan tujuh warna pelangi untuk menghiasi hari-hariku.

***

Aku mendengar suara ketukan pintu. Dengan sedikit tergopoh, aku menuju ke pintu depan setelah mengecilkan api kompor. Terlihat sosok Yonezawa yang tengah menyengir manis seperti biasa.

“Kana-chan, besok pergi bersama ke upacara penerimaan murid baru, ya!”

“Maaf?”

“Aku beruntung, lho! Aku masuk ke SMA Chukyo juga, walau nilaiku pas-pasan sekali,”

Ia kembali terkekeh.

“Untung saja Kana-chan tetap memilih mengikuti ujian masuk di SMA Chukyo. Aku saja bisa masuk, apalagi Kana-chan? Setahuku, Kana-chan meraih peringkat dua, kan? Selamat, ya! Dengan begini, kita bisa bersama lagi,”

Mulutnya tak henti-henti berbicara, bagaikan shinkasen yang tengah melalui jalur lajunya. Aku hanya menanggapi kalimat demi kalimat yang ia lontarkan dengan jawaban fisik–mengangguk, menggeleng, mengedipkan mata, menaikkan alis, dan sebagainya–, atau setidaknya membuka mulut walau hanya beberapa detik.

“Jadi, Kana-chan akan memasuki jurusan apa?” tanya Yonezawa pada akhirnya.

Aku meneguk liur. “Aku tidak tahu. Ingin mencari jurusan yang mudah-mudah saja,”

Kedua telapak tangannya langsung menyentuh pipiku. Seolah menyuruh mataku untuk menaruh pandang ke dalam bola matanya. “Jangan begitu. Kana-chan pasti bisa. Pokoknya, ambil saja jurusan yang akan menjadi jalan menuju mimpi Kana-chan. Mau sulit atau mudah, semuanya pasti bisa dilewati,”

Karena ucapannyalah, aku mengambil Excellent Course–jurusan yang paling banyak dipilih. Murid-murid jurusan ini akan diupayakan tembus ke universitas-universitas ternama. Entah itu Universitas Kedokteran Tokyo atau Universitas Hokkaido, yang pasti pembinaannya sangat serius dan disiplin. Dari isu burung yang kudengar, banyak pula yang patah semangat di tengah jalan akibat kerasnya jurusan yang satu ini.

Tapi, aku percaya pada Yonezawa.

***

Aku harus banyak berterima kasih kepada Yonezawa. Jika tidak ada dia, mungkin aku tidak akan pernah sampai kepada mimpiku: menjadi ahli bedah. Tidak mudah untuk meraih posisi itu. Biasanya, mahasiswa-mahasiswi alumnus universitas kedokteran ternamalah yang mampu menggapainya. Akhirnya, aku mulai menapaki jalan menuju ke sana. Sekali lagi, karena Yonezawa.

Bahkan, Yonezawa mengambil jurusan yang sama denganku. Tuhan juga ternyata sangat baik. Ia menakdirkan kami sekelas selama tiga tahun. Awalnya, aku curiga Yonezawa hanya mengambil Excellent Course untuk memapahku. Tapi, Yonezawa tidak mungkin sebodoh itu. Dia tidak akan mengorbankan jalan menuju mimpinya sendiri demi membawa orang lain berjalan menuju mimpi orang itu.

Dia selalu membangkitkanku.

Di SMA ini, cukup banyak yang membullyku. Entah karena aku dekat dengan Yonezawa–desas desus yang kutahu, banyak yang cemburu kepadaku karena kedekatan ini –, atau aku yang terlalu disayang oleh sensei, atau alasan lainnya. Menurutku, aku wajar dibully seperti ini karena aku terlalu banyak diam.

Tapi pemuda itu seolah selalu menjadi tameng untukku. Ia yang memerintahkan aku untuk bangkit dan menghadapi pembully itu satu demi satu agar mereka tahu kekuatanku. Yonezawa menyuruhku untuk berbicara lebih tegas supaya mereka tidak meremehkanku lagi. Awalnya bagiku itu omong kosong, dan kulakukan hanya untuk menyenangkan hatinya. Siapa sangka itu manjur?

Yonezawa juga yang terus mendorongku untuk giat belajar, agar lulus SMA dan sukses masuk ke Universitas Kedokteran Tokyo–itu tujuan jangka pendekku.

Ya. Di tahun baru nanti, aku akan pergi ke kuil dan berdoa agar Tuhan membalas semua kebaikan Yonezawa. Berkat dukungannya, aku meraih peringkat pertama dalam ujian kelulusan.

***

“Kana-chan, selamat untuk peringkat pertamanya. Berjanjilah kau akan mengobatiku secara sukarela jika aku sakit nanti!” Ia menjentikkan jarinya nakal di dahiku.

“Iya. Terima kasih, Yonezawa,”

“Oh, ayolah. Sesekali panggil aku Ken, bagaimana? Atau.. jangan-jangan kau tidak bisa mengatakan “Ken”!?”

Aku sedikit tertawa mendengarnya.

“Baiklah. Kalau begitu, besok datang ke rumahku, ya,” Ia meletakkan telapak tangannya di atas kepalaku, lalu mulai membuat rambutku berantakan. Kini, ia jauh lebih tinggi daripada aku, tapi masih terlihat imut seperti dulu.

“Untuk apa?”

Tampak Yonezawa hanya mengukir tipis senyumannya–tidak seperti biasa. “Perpisahan,”

“Apa?” Aku pikir, sepulang nanti, aku harus mengorek telingaku dengan cotton bud terlebih dahulu.

“Ya, aku akan mengambil kuliah di Universitas Sapporo. Jurusan olahraga tepatnya. Aku ingin menjadi atlet atau seorang instruktur dalam olahraga ski–kau tahu kan betapa terkenalnya Sapporo dengan olahraga ski? Kalau tidak, ingin menjadi pemain sepak bola kelas dunia!” sahutnya sembari kembali mengembangkan senyum. Ia mengedipkan sebelah matanya pertanda ia sangat optimis.

Berbeda jauh denganku. Aku justru membesarkan mata dan mulai meninggikan intonasi berbicara. Tidak, tidak. Bukan karena mimpinya yang salah, atau karena kami akan berpisah jauh setelah ini.

“Lalu, kenapa kau tidak ambil Sports Course saja sejak kelas 1!? Bukankah itu lebih memudahkanmu menggapai impianmu!?”

“Lho, aku maunya Excellent Course?”

“Bodoh!”

Aku hanya mendengarnya menyebut namaku berkali-kali, sedangkan aku tak menghiraukannya lagi. Lekas aku melangkah menuju ke rumah, agar dapat menangis sepuasnya di kamarku.

***

Dia orang yang sangat bodoh! Lebih dari kata bodoh!

Kita sudah dekat selama 3,5 tahun, Yonezawa! Sangat dekat! Aku tidak pernah mengatakannya padamu, tapi kini aku sudah tahu kalau kau tengah berbohong atau tidak! Aku sudah tahu hampir semua tingkah lakumu, kepribadianmu, atau hal lainnya. Seperti tak ada lagi rahasia di antara kita kini.

Aku juga sama bodohnya.

Kenapa tidak dari dulu kutanyakan apa mimpimu? Betul juga. Sedari dulu, hanya kau yang bertanya tentang aku, diriku, dan semua tentangku. Mulai dari mimpi, angan-angan, dan semuanya.

Kini tak ada keraguan lagi. Firasatku tiga tahun yang lalu itu benar.

Kau hanya masuk ke Excellent Course untuk menemaniku. Untuk membantuku menggapai mimpiku, dengan mengabaikan mimpimu sendiri yang berbeda jauh denganku. Aku merasa berdosa karena memiliki sikap ragu-ragu, pesimis, pemalu, dan semua sikap lainnya. Itu menyebabkan dirimu berpikir bahwa kau harus ada untukku, harus menyanggaku agar aku tak layu, harus membangkitkanku agar aku tak jatuh, harus menguatkanku agar aku tak lemah. Sungguh, jika itu justru membawamu menjauh dari mimpimu, aku sangat berdosa.

Apa yang bisa kulakukan untuk menebus semuanya?

Yonezawa Ken, katakan bagaimana aku bisa menebus semua kesalahanku!?

***

Saat aku membuka pintu di pagi hari untuk membuang sampah, aku melihatnya tengah bersandar di dinding di sebelah pintu. Tangannya dilipat di depan dada. Awalnya, ekspresinya begitu serius. Tapi seketika berubah ketika melihatku keluar dari rumah.

“Kana-chan, selamat pagi,”

Aku menatapnya kesal. “Yonezawa, kau sudah berdiri di depan rumah berapa lama?”

“Tidak lama, kok. Aku baru saja datang,”

“Bohong! Kenapa tidak mengetuk pintu saja?”

"Sungguh, aku baru saja datang, Kana-chan,”

“Jangan berkata begitu, Yonezawa! Aku melihat adanya kebohongan dari manik matamu,”

Kami berdua sama-sama terdiam. Orang-orang yang berlalu lalang di depan rumah terkadang menatap kami bingung. Aku tak menghiraukan mereka sama sekali, hanya berpikir untuk segera mengatakan ini kepadamu.

“Kana-chan, aku–”

“Maafkan aku,”

“Kana-chan?”

“Kalau aku lebih percaya pada diriku sendiri, aku tidak akan merepotkanmu. Dan kau bisa mengambil jalan menuju mimpimu sedari dulu,”

“Kana-chan, bukan begitu,”

“Aku merasa sangat bersalah. Rasanya seperti memanfaatkanmu. Apa aku telah membuatmu menghabiskan tiga tahun dengan sia-sia? Bagaimana caraku menebusnya?”

Ia lantas meletakkan telunjuknya di bibirku, lalu menyunggingkan senyum damai.

“Ini bukan kesalahan siapa-siapa,” Ia menghela napas dan kembali berbicara dengan tenang. Kebijaksanaan terus tersirat dari kata demi kata yang ia lontarkan. “Kau tidak merepotkanku. Kau tidak menghalangi jalanku menuju mimpiku. Kau tidak perlu merasa bersalah, karena aku tidak merasa kau memanfaatkanku. Aku tidak menghabiskan tiga tahun waktuku dengan sia-sia, jadi kau juga tidak perlu untuk menebusnya, Kana-chan,”

Sebenarnya aku tidak mengerti apa-apa. Aku hanya bisa terdiam mendengar semua yang ia katakan dengan air mata yang mulai mengalir setetes demi setetes. Hanya bisa menatap matanya intens saat ia mulai menepuk kepalaku lembut. Semuanya menjadi lebih baik ketika aku menganggukkan kepala setelah ia berkata lagi.

“Hal yang terpenting adalah terus melihat ke masa depan, mengerti?”

“Kita akan berjalan di jalur yang berbeda, jadi maafkan aku untuk perpisahan ini,”

“Tidak, Yonezawa, maksudku–”

“–tapi, aku tidak ingin berlari dari mimpiku. Jadi, aku tidak menyerah. Meski.. asal kau tahu.. aku juga memimpikanmu..”

Ia mengatakannya sambil tersenyum, dengan sedikit rona merah di pipinya. Ini kali pertama ia mengatakan sesuatu yang romantis dengan serius. Sesaat kemudian, aku merasakan kecupan lembutnya di pipiku. Tangannya mulai dilambaikan saat ia telah berpamitan kepadaku–walau sebenarnya aku bukan siapa-siapanya.

“Sampai bertemu lagi suatu hari nanti,”

“Yonezawa..” Aku melirih pelan. “..tidak. Maksudku.. Ken, teruslah berlari sampai kau menggenggam mimpimu! Berjanjilah saat kita bertemu lagi, kau sudah menjadi seperti apa yang kau harapkan!”

Ia mengangkat tangannya meski tidak menoleh, pertanda ia mendengarnya dan menyetujuinya.

Ken, ayo kita sama-sama berjuang!

***

Karena kau ada untukku.. Aku seolah memiliki kekuatan untuk pergi ke manapun yang aku mau. Terima kasih karena kau selalu menoleh ke belakang untuk memastikan aku masih ada, tepatnya di saat-saat yang sulit. Kau adalah sosok yang hebat. Tetap menerjang badai walau banyak pasir yang mengaburkan pandanganmu.

Karena kau tak pernah meninggalkanku.. Aku bagaikan tak takut apapun lagi, aku bagaikan mampu melakukan segalanya. Bagaimana aku bisa membalasmu? Semua hal yang kaulakukan demi menjagaku dari kejauhan. Aku tahu, Ken, aku tahu kau selalu ada di sana untuk mengawasiku.

Karena kau menyemangatiku.. Aku yakin untuk terus berjalan di jalan pilihanku. Suatu hari nanti, di saat kita bertemu lagi, aku ingin kau memujiku karena aku berhasil untuk hidup dengan penuh kekuatan meski tak bersamamu lagi. Walau pada dasarnya, kau akan selalu ada bersamaku, karena kau terus ada di dalam lubuk hatiku. Selalu hidup di dalam putaran kenangan-kenangan di dalam otak.

Karena kau tak henti-hentinya menarikku dari lubang itu.. Sungguh, terima kasih karena kau selalu menunjukkan jalan agar aku tak tersesat. Kau yang memberitahuku apa arti kehidupan, apa arti kebahagiaan, apa arti ketulusan, dan apa arti mimpi. Semua itu sangat tak ternilai. Aku benar-benar orang yang sangat kaya. Terima kasih.

Ken.. Mengapa.. aku sangat ingin menangis di hadapanmu saat ini? Menyayangkan 3,5 tahun yang berlalu begitu cepat bagaikan semilir angin di sore hari. Mengapa cinta yang dulunya dekat layaknya hal yang dapat dengan mudah kugenggam, kini tak tercapai meski kurenggangkan tangan sejauh mungkin?

***

lagu-lagu klasik mengalun memenuhi ruanganku. Tapi nada-nadanya hanya sekadar lewat di pikiranku–masuk melalui telinga kanan dan kembali keluar melewati telinga kiri. Aku lebih memfokuskan diri kepada kenangan-kenangan itu.. Kepada semua peristiwa yang pernah kita lalui berdua, yang terus hidup di dalam memori tak terlupakan hanya milikku.

Tanpa dilirik pun, sudah pasti jarum jam akan terus berputar 360˚ berulang kali. Terus menerus sampai baterainya tak bersisa. Sama halnya dengan reka ulang kebersamaan kita. Terus menerus kuingat tanpa tahu kapan akan berakhir.

Di hari ini, aku tidak tahu mengapa air mataku terus mengalir dari sudut mataku. 

Mengapa Tuhan harus memisahkan kita? Mengapa kita tidak bertakdirkan bersama-sama seperti dulu lagi? Mengapa aku tak dapat lagi merasakan kebersamaan itu setelah sekian lama? Mengapa sakit tak berperi ini bagai bekas paku di dinding–tak akan sembuh meski waktu berjalan? Mengapa.. mengapa.. mengapa.. dan semua pertanyaanku yang membutuhkan alasan sama sekali tak mampu kujawab.

Lebih dari lima tahun aku tidak melihatmu lagi. Tidak mendengar suaramu yang bandel, tidak menemukan seringaian yang persis sama seperti seringaianmu di mana pun, juga tak merasakan hangatnya tanganmu mulai membuat rambutku kusut. Lebih dari lima tahun.. kulewati dengan perasaan sepi.

“Hal yang terpenting adalah terus melihat ke masa depan, mengerti?”

Aku mengerti.. Aku akan melalui semuanya dengan kekuatan yang kauberikan dulu–walau sudah lebih dari kata lama–, yang bersinar terik bagaikan matahari di musim panas. Mungkin aku telah mampu mengendalikan emosiku sekarang, lalu menghapus air mata dan jejaknya di wajahku. Kuambil tasku, kemudian melangkah keluar rumah.

Universitas Kedokteran Tokyo adalah tujuanku, mengambil kelas di sana, mengikuti semua alurnya, lalu meraih mimpi terbesarku.

Tapi, suatu saat mimpiku yang lain pasti tercapai. Kembali melanjutkan hidup bersamamu.

***

Hei.. Ken..
Apa kau telah terbiasa untuk bersikap dewasa?
Bukankah kita tetap bisa melihat semuanya meski masih kanak-kanak?
Hei.. Ken..
Apa kau telah terbiasa untuk bersikap tegar?
Bukankah sulit untuk menahan air mata agar tak meluap keluar?

Hei.. Ken..
Aku adalah orang yang egois, bukan?
Aku mengucapkan semuanya tanpa berpikir panjang

Hei.. Ken..
Ternyata kita bisa sampai di sini
Di kejauhan ini
Sungguh, ke mana pun aku akan melangkah
Bagaimana pun caranya
Kaulah tempat aku kembali

***

Aku berdiri di bawah sebuah pohon yang aku tak tahu jenisnya. Maaf maaf saja, tapi aku adalah mahasiswi kedokteran, bukan mahasiswi jurusan botani. Sebenarnya asrama tempatku menyewa tidak begitu jauh dari Universitas Kedokteran Hokkaido. Tetapi di dalam tasku terdapat bahan skripsi yang penting. Riwayatku akan tamat kalau-kalau mendapati mereka basah dengan tinta yang luntur.

“Mau pulang bersamaku?”

Suara itu sedikit berat, tapi lembut. Tampak tangannya yang kekar membawa sebuah payung berwarna biru. Tunggu, ini seperti déjà vu. Bukankah begitu?

Namun ketika melihat senyuman dari sang empunya payung, aku menyadarinya. Ini bukan déjà vu, ilusi, mimpi, atau apapun. Ini adalah kenyataan. Kenyataan dari mimpi yang kukira tak memiliki ujung.

“Kana-chan, aku pulang,”

Lantas aku berseru dan mendekat ke arahnya. Membiarkan beberapa tetes air hujan menitik membasahi pakaian maupun tasku.

“Ken!”

“Wah, wah.. Sekarang Kana-chan memanggilku dengan nama kecil. Aku senang!”

-FIN-

P. S. Thanks for Watanabe Mayu-san for her song that give me an inspiration to make this fic. 本当にありがとうございました! (^^)

4 komentar:

Tinggalkan jejak dengan bahasa yang baik. Terima kasih.. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...