Jumat, 29 Agustus 2014

[Orifiction] Ai no Hikoukigumo / Jejak Awan Pesawat Cinta

Aah~ Minna! Setelah sekian lama Miichan tidak ada di dunia blog ini :" Meskipun baru 5 hari, rasanya sudah seperti sebulan. Miichan pun tidak tahu apakah peringkat blog ini di alexa.com telah berkurang atau tetap :"

Oke.

Miichan memutuskan untuk promosi tentang fiksi terbaru Miichan. Sebenarnya ini fiksi lama di draft Miichan, tapi baru sempat dipublish sekarang. Dan ini Miichan buat sebagai hadiah segmen kepada Annisa Cantika (^^)

Sekali lagi, ini fiksi tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan (?) Dan tokohnya juga hanya "aku" tanpa nama yang jelas seperti di fiksi Maybe sebelumnya. Dan lagi, ini terinspirasi dari lagu AKB48 - Hikoukigumo.

Bagi yang tertarik membacanya, Miichan sangat terhura :"

~ 愛の飛行機雲 ~ Jejak Awan Pesawat Cinta ~ 
Di hari yang cerah
Antara musim gugur dan dingin
Sepintas jejak awan pesawat cinta berlalu

Tidakkah kamu merasa embusan angin membawa kilas balik?
.

.

.

Meski kelopak sakura itu masih berguguran satu demi satu, pagi ini akan menjadi pagi yang baik, bukan? Hari ini suasananya seolah sudah musim dingin saja. Akan tetapi, belum banyak orang sekitar yang mengenakan pakaian tebal. Tidak begitu acuh, aku melangkahkan kaki menuju sekolah.

Aku mengedarkan pandang pada langit biru. Sebaran abstrak awan, indah sekali. Terkadang, daun merah kecokelatan berayun melintasi jalur penglihatanku, kemudian aku sadar akan jalur pesawat di atas sana. Segaris putih yang lurus dan memanjang.

Memangnya, siapa yang mampu bertahan setelah melihat jejak itu?

Jalur pesawat di sana tampak lurus. Namun, di pikiranku, garis putih itu berputar-putar membentuk suatu bentuk—yap, mau dikatakan bentuk hati, cinta, ai, koi, sejujurnya aku tidak peduli.

Embusan angin membawa hawa baru untukku, juga mengingatkanku akan hal yang telah terlupa. Lalu, matahari.. entah mengapa sinarnya tidak begitu cerah. Cahayanya tidak seluruhnya sampai ke permukaan akibat halangan dari atmosfer bumi. Aku jadi sedikit khawatir. Tanpa sinar yang cukup, apa cinta masih dapat bertahan? Tidakkah cinta akan layu dan gugur bersamaan dengan dedaunan itu? Sepertinya, semua yang berlangsung pada pagi hari ini mengingatkanku pada suatu kilas balik.

Aku menengadahkan kepala untuk kedua kalinya; melihat jejak pesawat itu. Sama persis dengan jejak pesawat pada hari itu. Objek yang sedari tadi kupandangi bagaikan cakar tajam yang menusuk sangat dalam. Sampai-sampai menimbulkan luka yang sangat perih. Lidahku jadi tidak sanggup lagi berkata-kata. Detik ini pun, masih ada bekas tipis luka itu di relung hatiku. Aku masih mencari di mana aku bisa menemukan obatnya. Sampai aku tahu, ketika aku menatap jejak pesawat itu dengan tatapan kosong, bahwa satu-satunya cara untuk menghilangkan semua rintihan ini adalah dengan dirimu.

Sungguh, aku tidak kuasa lagi. Kupalingkan wajah ke arah jalanan aspal. Layaknya pada umumnya, jalanan berwarna abu-abu dengan garis putih di tengahnya. Di beberapa area terlihat coretan dari anak-anak nakal. Di beberapa area pula, telah tersimpan sekian banyak kenangan di antara kita—hanya kau dan aku—tapi telah banyak pula dilangkahi oleh orang-orang tak berkepentingan.

Aku mengepalkan kedua tanganku sehingga terasa hangat. Bagiku, cinta adalah jejak pesawat yang merupakan satu goresan yang luas dan tipis. Cinta membuatku ingin kembali ke hari itu, hari yang tidak dapat aku kembali. Setelah semuanya, aku merasa tidak memiliki asa lagi untuk melangkah maju.

Aku berhenti melangkah walau waktu tidak kunjung berhenti berputar. Sekuat tenaga aku mencoba menahan air mata.

Padahal hanya karena peristiwa hari itu.

***
Sayonara,”

Embusan napasmu menggelitik telinga kala kau berbisik. Kedua tanganmu mendekapku erat, sedangkan wajahmu.. untuk kali pertama aku melihat ekspresimu seperti itu.

Ekspresi yang tidak bisa dilupakan.

.

Aku merentangkan tangan kanan sejauh yang aku bisa sambil melambaikan sapu tangan merah kepada burung besi raksasa itu. Kau ada di dalamnya. Tinggal menghitung mundur sampai akhirnya sosokmu pergi jauh dari kehidupanku.

Sial. Hidupku yang sudah biasa berubah menjadi sangat-sangat-biasa. Hambar dan memuakkan.

***
Ohayou!”

Seseorang merangkulku tiba-tiba setelah menyapaku. Ternyata sahabatku sendiri. Karena perasaan frustrasi yang tidak jelas ujungnya ini, aku nyaris saja lupa bagaimana paras sosok yang tengah tersenyum di sampingku. Senyumannya saat ini sama manisnya dengan senyuman waktu itu, saat aku tengah menangis begitu kencang.

Gadis berambut pendek-tebal-hitam itu kini mulai mengoceh ria dari A sampai Z. Setidaknya itu sedikit menghilangkan sepi yang menyelimuti jiwaku setelah kau sirna dari pandangan.

***

Kini, aku tidak lagi bisa meraih dan menggenggam tanganmu dengan hangat. Meski demikian, suatu hari nanti, di masa depan, di suatu tempat, benang merah pasti mengizinkan takdir kita bertemu.

Kucoba mengulas senyum, tipis, lalu melanjutkan perjalanan menuju tempatku menimba ilmu untuk angan-angan yang telah digantungkan.

-END-

Terima kasih sudah membaca tulisan seorang amatiran ini ((terhura))

Jaa mata nee~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan jejak dengan bahasa yang baik. Terima kasih.. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...