Rabu, 25 Juni 2014

[Shingeki no Kyojin Fanfiction] Rivetra - Arigatou

Nee, minasan, konbanwa ^^

Kesempatan kali ini, Miichan ingin share fanfiksi Miichan dari ship kesukaan Miichan >> RIVETRA, yaitu Rivaille dan Petra. Alasan lain Miichan menshare fanfiksi ini, karena ini adalah postingan ke-100, jadi harus diisi dengan yang spesial, yaitu ini! xD Sayang ship kesukaan Miichan ini harus berakhir karena, ya.. Miichan rasa kalau kalian penasaran, ada baiknya langsung baca manga SnK saja ^^
Oke, langsung saja. Oh ya, fanfiksi ini berjudul Arigatou atau dalam Bahasa Indonesia "Terima Kasih". Mungkin ada kesalahan judul, karena Petra itu bawahannya Levi, jadi harusnya Arigatou Gozaimasu biar lebih formal dan sopan. Hanya saja karena Miichan malas.. Maaf ya >.<

Check this out!

ARIGATOU
Terima kasih, Korporal, batinku berhasil memeluk sosok Korporal dari belakang, beberapa saat sebelum aku akan bereinkarnasi menjadi bintang. / Fanfiksiku yang ke ... mmm.. berapa ya? / RnR!
Title
Arigatou

Summary
Terima kasih, Korporal, batinku berhasil memeluk sosok Korporal dari belakang, beberapa saat sebelum aku akan bereinkarnasi menjadi bintang. / Fanfiksiku yang ke ... mmm.. berapa ya? / RnR!

Cast
Petra Rall
Rivaille (Levi)
And another chara

Rated
Fiction T

Genre
Romance, hurt, comfort, supranatural

Words
3,5K+

Warning
Typo(s) (maybe)
Alur kurang jelas dan feelnya kurang kerasa
Tokoh OOC
Fanfiksi abal banget!!!

A/N
Inspirasi dari lagu AKB48 – Arigatou, SNSD – All My Love is For you, SNSD – Complete


2 Hari Ekspedisi 57~

.
.

Kukerjapkan ke dua mataku sesaat, sebagai bentuk rileksasi tubuh yang masih letih akibat ekspedisi 57 kemarin. Ekspedisi besar-besaran yang tak dapat disebut sukses total, mungkin? Tapi semuanya telah berusaha semaksimal mungkin, jadi tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

Komandan Erwin Smith memberikan 2 hari bebas selepas ekspedisi itu, dan akan kugunakan secara maksimal. Inilah waktu untuk melepaskan diri dari beban apapun itu. Dari tekanan, baik fisik maupun mental, ketika harus berhadapan dengan raksasa pemakan manusia itu.

Oke, lupakan semua celotehanku tadi. Entah ini dapat dikatakan aneh atau tidak, kemarin kegelapan terasa lekas menutupi seluruh pandanganku tepat tubuh Eld terlihat ... Ah, sudahlah. Halusinasiku yang konyol saja. Buktinya saat ini, aku tersadar bahwa aku masih ada di kamar. Masih hidup, masih dapat melihat seisi kamar, dan dapat berceloteh panjang lebar seperti tadi. Aku masih ada di sini, dan aku yakin seluruh teman sepasukanku juga ada. Ini masih nyata.

Kitto1..

Kerjapan ke dua mata kembali kulakukan sembari menarik nafas dalam, lalu melepaskannya dengan perlahan. Otakku kembali berputar, mencoba mengingat kejadian dua hari terakhir ini. Sama sekali tak ada yang menghiraukanku. Tak ada yang menggangguku, bahkan dengan ketukan pintu. Saat aku berada di ruang makan, juga, tidak ada yang acuh. Seolah semuanya begitu depresi dan stress akibat ekspedisi kemarin sehingga bertingkah laku seperti ini. Mereka masih beraura suram di mataku.

Warna jingga kemerahan dari luar kaca jendela sedikit tertangkap oleh ekor mataku. Ini menarik perhatian dan membuatku sadar akan gorden jendela yang hampir menutupi keseluruhan kaca. Lekas aku duduk dan berdiri, berjalan ke arah jendela di sebelah kanan tempat tidurku itu. Kemudian menyibakkan gorden abu-abu polos dengan cepat. Membiarkan sirat jingga tersebut masuk dan memenuhi kamarku.

Yuuhi no kagayaki2..
.
.

Membuatku terbangun cepat

Matahari senja

Senyum lega kukulum

Tanpa tahu alasannya

.
.

Satu yang aku tahu. Untuk melihat kilauan cahaya jingga ini, adalah salah satu alasan Tuhan membiarkanku ada di sini.. batinku berbisik sambil menatap sinar jingga ini. 

Hangat.

Aku berjalan menjauhi kamar, tepatnya ke arah pintu dan menarik gagangnya. Ketika pintu telah terbuka, aku melongok ke kanan dan ke kiri. Lagi-lagi. Koridor terasa sepi. Ke manakah orang-orang? Keberadaan rekan-rekan yang berkamar di sebelahku ini pun tak dapat aku sadari. Ya, mereka. Gunther Schultz, Eld Jinn, dan Oluo Bozado. Apa mereka begitu lelah? Sampai aku belum melihat wajah mereka setelah ekspedisi itu.

“Gunther .. Eld .. Oluo ..” desisku pelan sambil membuang tatapanku ke arah yang berlawanan dari kamar mereka. “.. Ah,” manik mataku seperti menangkap sosok yang tengah berjalan di koridor, yang tak lama lagi akan lewat di hadapanku. Dengan sifatnya yang eksentrik dan wajah yang selalu ceria. Tidak ada yang tidak mengenalnya di Scout Legion.

“Selamat sore, Mayor Hange Zoe,” sapaku. Aku melakukan solute sembari membiarkan ia berjalan tanpa menghiraukanku. Setelah beberapa detik, aku menegakkan tubuhku dan merasa aneh. Kondisi orang-orang di sekitarku ini benar-benar sudah lebih dari kata ‘janggal’.

Bahkan Mayor Hange Zoe yang masih tetap di karakternya pun tidak menghiraukanku ..

Aku sedikit terpaku melihat sosok wanita dengan tinggi 181 cm itu dari belakang. Ia berjalan seperti biasanya. Riang tanpa beban, seolah hari esok yang ceria telah menunggunya.

Iya, itu karakternya yang biasa, tidak ada yang berubah ..

Mayor Hange Zoe jauh berbeda dengan orang-orang yang aku temui di ruang makan akhir-akhir ini. Mungkin mereka masih terbebani dengan trauma dari ekspedisi ke-57 sehingga tidak peduli keadaan sekitar. Tapi aura dan kondisi Mayor sama sekali seperti biasa, jadi beralasan apa?

Telinga kananku menangkap suara langkah kaki lagi. Aku berhenti melamun dan lekas menoleh ke arah langkah kaki itu. Kali ini berlawanan dengan arah dari mana Mayor Hange Zoe datang.


“Ah, selamat sore, Mayor Hange Zoe,”

“Selamat sore, Eren! Hei! Mau dengar eksperimenku lagi? Aku punya kesimpulan baru dari eksperimen yang baru aku teliti!”

“Mmm.. Soal itu.. S-Saya rasa dalam waktu dekat ini aku belum bisa, Mayor. Saya mohon maaf,”

“Ah, kalau begitu tak apa. Sampai nanti!”

“Sampai nanti, Mayor Hange Zoe,”


Nani o ... ?3

Aku sedikit heran dengan percakapan yang baru saja ditangkap oleh telingaku. Bahkan alisku sampai aku berkerut. Mayor Hange Zoe masih seperti biasanya, aku sudah yakin dengan fakta itu. Ia tidak berubah. Ia masih peduli dengan keadaan sekitar, bahkan sifat eksentriknya yang biasa masih ada. Tapi, kenapa hanya denganku ... ?

“Ah, Eren!” seruku kepada lawan bciara Mayor Hange Zoe tadi. “Selamat sor-”

Lagi. Dan lagi. Eren melewatiku seolah tidak tahu apa-apa dengan ekspresi tak berdosa. Aku merasa sedikit aneh dan mencoba menahan eren dengan lembut. Tangan kananku aku gunakan untuk menepuk pundak Eren, tapi ...

.
.

Yang akan aku lihat

Apapun masa depan itu

Pasti aku buka

Dengan ke dua tangan ini

.
.

U-Uso .. !4

Aku menghentikan langkahku untuk mengejar Eren. Ini sia-sia, lebih dari sia-sia. Tidak ada gunanya aku lakukan. Karena aku sadar hal itu, aku tidak akan melanjutkannya. Bahwa .. tanganku meleset. Aku yakin tanganku berada di tempatnya. Tanganku sudah berada di pundaknya, menepuknya dengan lembut, tapi .. sama sekali tidak menyentuh raganya.

Aku mengayun-ayunkan tanganku di udara. Kerutan di dahiku tanpa sengaja kembali aku buat.

Ini masih terasa seperti nyata.

Aku berlari di koridor menuju ruang makan. Tampaknya hanya ada para kadet di sana. Aku mencoba menyapa satu persatu yang ada. Mikasa Ackerman, Armin Arlert, Jean Kirstein, Connie Springer, Sasha Blouse, Christa Lenz, Ymir, Bertoolt Hoover.. Semua! Semua yang ada di sana! Akan aku pastikan!

“Hei,”

Tapi ini nihil.

Aku tidak mendapat satu respon pun dari mereka.

Yang dapat aku lihat dan mengerti hanya..

Pundak mereka aku tepuk dengan tanganku yang telah menjadi transparan.

.
.

Seketika semuanya menyergapku

Memori sebelum kegelapan

Berputar-putar dengan cepat

Di dalam otakku

.
.

Padahal aku telah banyak berkorban

Telah memberi semuanya

Dengan aliran peluh di pelipisku

Sampai nafas terakhirku

.
.

Aku hanya bertatapan nanar. Menatap sekelilingku dengan tatapan tidak percaya. Kenapa harus takdir ini yang aku terima?

Apa memang seperti ini kenyataannya? Bahwa aku dan mereka semua, ada dalam dimensi yang berbeda.. Apakah memang dan harus seperti itu kenyataannya? Siapapun itu! Aku mohon, jawab aku!

Aku berjalan pelan menuju pintu keluar masuk ruang makan. Menatap mereka semua, dengan tatapan yang tidak berbalas. Aku memaksakan sunggingan senyum yang seperti terpaksa. Sudahlah, lagipula tidak akan ada yang menyadari senyuman ini.

“Aku..” aku tidak dapat menahan gerlingan mataku yang membuang tatapan ke bawah. Bibirku aku kulum dengan sendirinya. “..terima kasih..,” bisikku pelan. Dengan tetes air mata yang mulai mengalir dari ekor mata sampai dagu, melalui pipiku. Saat aku menyadari bahwa aku seharusnya sudah tidak ada di sini. Saat semua memori itu sudah berhasil aku ingat lagi. Semua memori itu. Aku berada di dimensi yang berbeda. Meski aku tidak tahu, alasan apa yang menahanku di sini. “..dari hatiku yang paling dalam,”

Aku mengakhiri kalimatku sembari mengerjapkan mataku yang mengalirkan air mata ini terus menerus.

Tidak.

Hentikan.

Aku menegakkan pandanganku.

“Berjanjilah padaku, meski terpisah jauh..” aku menggantung ucapanku lagi. Tubuhku terasa lemas. Melihat mereka yang masih nyata seperti itu, membuat hatiku sakit. Bukan aku ingin mereka mati juga seperti aku dan bersamaku di dimensi ini. Tidak, aku bukanlah orang yang nista seperti itu. Tapi ini benar-benar membuatku harus menahan rasa sakit dan perih menyadari kelamnya kenyataan ini.

Aku mengerti.

“..ingatlah aku,”

.
.

Yang bisa aku lakukan

Sekarang ini

Mungkin

Hanya menatap dari sini

.
.

Hanya dari sini

Karena

Aku pun tidak tahu

Kenapa Tuhan belum mengizinkanku untuk kembali ke Sana

.
.

Aku berjalan menaiki tangga. Di tengah malam, sendirian. Bukannya aku takut dengan adanya lelaki mesum di malam hari–tidak, jangan bercanda lagi. Ini terlalu menyakitkan. Aku benar-benar tidak tahu harus pergi ke mana. Aku harusnya ada di dimensi yang lain, tapi masih tertahan di sini. Atas alasan apa Tuhan menakdirkan ini? Aku tidak tahu, dan seharusnya aku tidak pantas bertanya hal rahasia seperti itu. Dan seharusnya sekarang, aku tetapkan apa yang akan aku tuju selama masih di sini.

Mada..5

Horison langit itu.. Bintang-bintang yang bertebaran itu.. Aku menatap mereka lekat-lekat.

Luas sekali ..

.
.

Orang-orang berkata

Jiwa yang terlepas dari raganya

Di langit, di atas sana

Akan bergabung dengan kerlipan bintang

.
.

Ah, apakah prajurit yang telah tiada sepertiku telah sampai di sana? Ah, bukan hanya prajurit. Apakah semua orang yang telah meninggalkan dimensi mereka pada awalnya telah sampai di sana? Dan manakah bintang mereka? Manakah bintang Eld dan Gunther?

Air mataku kembali mengalir, meskipun aku mencoba menahan kelenjar air mataku untuk berhenti mengeluarkan air mata.

Untuk sesaat..

Apakah ... ?

Iris mataku sedikit membesar menyadari akan sesuatu. Fakta yang aku harapkan adalah sebuah kebenaran.

Apakah seseorang yang berteriak sebelum aku pergi, masih ada?

Aku menaiki tangga dengan lebih cepat. Kemudian berlari di koridor yang sepi ini kembali ke arah deretan kamarku. Dengan sedikit terengah-engah, aku sampai di depan pintu kayu cokelat kamar seseorang. Aku menarik nafasku dalam, kemudian melihat nama yang tertera di depan pintu itu.

Oluo Bozado ...

Apakah dia masih hidup?

“Oluo! Oluo! Buka pintunya!” seruku sambil memukul-mukul pintu kayu itu.

Izinkan, Tuhan. Izinkan dia masih hidup.

Aku benar-benar di luar batas kendaliku, setelah menyadari fakta apa yang ada sebenarnya. Aku terus menggedor-gedor pintu tanpa ada balasan apapun.

“Oluo!”

Meski orang-orang hanya melihat bahwa pintu ini bergerak-gerak sendiri tanpa ada pemicunya.

“OLUO!!!”


“Oi! Levi, kau mau ke mana!”


Refleks tanganku berhenti menggedor-gedor pintu. Aku membuka mataku yang sempat aku pejamkan sambil berteriak. Terdengar langkah kaki di telinga kananku.

Mayor Hange Zoe?

Tidak, ini bukan hanya langkah kaki satu orang. Ini..


Oii!! Levi!!”

“Diamlah kau, mata empat!”


Aku menoleh ke arah dua orang yang memecah keheningan ini, dan membuat suasana di koridor menjadi ramai. Manik mataku sudah maklum saat melihat yang satunya, tapi ...

Mayor Hange Zoe?

Korporal ... Levi?

“A..”

Mulutku sudah membuka, tapi tidak ada sedikit pun suara yang bisa aku keluarkan. Seperti kata orang-orang, seseorang yang terlalu stress bisa kehilangan suaranya. Ya, itu aku. Aku menatap ke duanya dengan tatapan sedih, sekaligus memaksakan senyumku. Aku.. benar-benar masih ingin berada di antara mereka. Aku.. benar-benar masih ingin untuk dapat bercengkarama satu sama lain dengan mereka, dengan prajurit yang lain. Air bening kembali mengalir tanpa bisa aku tahan lagi dari ekor ke dua mataku.

Padahal aku tidak ingin menangis lagi, tapi ...

Ini sangat memukulku ...

“Mayor ... Hange ... Korporal ... Levi,” isakku terbata dengan suara yang serak dan pelan. Miris. Aku benar-benar masih ingin nyata seperti mereka. Tapi, apa yang bisa aku lakukan jika sudah menerima catatan takdir dari Tuhan seperti ini? Apa?

“Oii!! Kau mau ke mana, hei!” Mayor Hange Zoe menarik pundak Korporal Levi dengan tangan kirinya, dan membuat Korporal Levi berhenti melangkah. Mereka berdua tepat satu setengah meter di hadapanku. Posisi yang tepat sekali untuk membandingkan tinggi mereka berdua. Air mataku seperti mengalir lebih banyak dan terus bertambah banyak. Aku rasa, mungkin lebih banyak daripada saat aku terakhir kali menangis di pemakaman Ibuku.

“Oi! Levi, kau mau ke mana bawa bunga segala! Mau melamar Eren, hah?”

Aku sedikit tersenyum tipis mendengar ucapan Mayor Hange di sela tangisku. Mayor Hange yang selalu ceria.. Yang dulu sering membantuku saat aku masih menjadi kadet. Semuanya hanya dengan kata ‘dulu’...

Aku mengerjapkan mataku untuk memperjelas penglihatanku. Saat aku membuka mataku, tepat pada saat Korporal Levi menarik kerah baju yang dikenakan Mayor Hange dengan tatapan datarnya. Aku terkikik pelan meski masih ada aliran air mata kecil dari mataku. Aku sudah sering melihat ini, jadi aku tidak khawatir lagi–meskipun pada saat pertama kali melihatnya, aku pikir Mayor Hange akan tewas seketika.

“Diam kau, mata empat! Aku sedang tidak ingin bercanda!”

Manik mata Korporal Levi membuatku berhenti terkikik dan sedikit bergidik ketakutan, akan tetapi aku tetap diam menatap mereka berdua. Sesaat kemudian, dapat terlihat bahwa Korporal Levi berjalan ke arah kanan berlawanan dengan Mayor Hange. Mereka saling berucap sesaat setelah Korporal Levi menarik kerah baju Mayor Hange, akan tetapi aku tidak mendengarnya karena tengah berupaya menghentikan tangisku yang masih mengalir.

Jadi ... ?

Dengan sedikit ragu, aku melangkah mengikuti Korporal Levi.

.
.

Karena tiap kali berada di dekatnya

Aku merasa lebih baik

Seburuk apapun kondisiku

.
.

Korporal Levi berjalan keluar dari markas. Sendirian dalam dimensinya. Kecuali jika aku yang berbeda dimensi ini dapat dihitung, tapi seperti yang kau tahu, seseorang yang masih nyata seperti Korporal tentu saja tidak akan dapat menyadarinya. Sudahlah, aku merasa sudah cukup kebal dengan kenyataan itu, jadi aku tidak akan menangis lagi.

Aku masih mengikuti kemana Korporal Levi melangkah, sampai aku menyadari bahwa kami berjalan di jalan setapak. Hanya kakinya yang melangkah, yang menjadi sumber suara di jalanan yang sepi ini. Korporal Levi sudah dapat dipastikan tidak akan banyak bicara, dan aku juga hanya dapat mengatup mulutku. Seberapa banyak pun aku bicara kepada Korporal, hanya akan terasa seperti hembusan angin kecil baginya.

Setsunaku naru mo..6

Cukup lama aku berjalan dengan pandangan ke depan–sosok Korporal Levi dari belakang. Aku tidak pernah bosan melihatnya. Hal ini berlangsung sejak ekspedisi pertamaku yang memaksaku melihat sosok belakang Korporal di atas kuda. Ada satu hal yang membuatku tidak bosan, meski aku tidak tahu apa itu. Yang dapat aku ketahui, bahwa hal itu adalah sesuatu yang membuatku nyaman untuk menatapnya terus menerus.

Korporal masuk ke sebuah area kecil, dengan aku yang masih mengekor dari belakang. Dengan beberapa susunan tidak begitu rapi dari batu-batu yang diletakkan di atas tanah. Aku tahu ini tempat apa. Dan aku tahu bahwa mau tidak mau aku harus tahu dan rela untuk menerima hal ini. Ini adalah pemakaman.

Terakhir aku ke area pemakaman–meskipun bukan yang ini, adalah pada saat pemakaman Ibu. Bukan berarti aku tidak pernah ke pemakaman para prajurit, hanya saja aku terlalu trauma dengan hal ini. Dan sekarang ini, aku harus melawan traumaku demi kegiatanku membuntuti Korporal Levi.

Korporal berjalan dan berhenti di depan sebuah nisan. Aku sedikit bergeser ke samping untuk melihat nama yang terukit di atas batu itu.

Gunther Schultz

Di sebelahnya, terdapat milik Eld dan Oluo. Ya, hanya itu saja. Tidak ada nisan yang bertuliskan Petra Rall.

Aku hanya bisa terdiam menyadari tidak ada nisan untukku. Sebenarnya ini sedikit memberikanku harapan bahwa sebenarnya aku masih ada di dimensi ini, hanya saja orang-orang terlalu iseng untuk berpura-pura tidak menyadari adanya aku. Tapi aku rasa para prajurit bukanlah anak-anak yang akan bersikap sekonyol itu. Jadi yang aku simpulkan sekarang adalah aku tidak memiliki nisan karena suatu hal, yang bisa juga menjadi alasan aku tertahan di dimensi ini.

Alasan itu sendiri aku tidak tahu, tapi Korporal tampak duduk berjongkok untuk menjejerkan bunga-bunga di dekat nisan-nisan itu.

“Gunther,” Korporal meletakkan satu bunga di sana.

“Eld,” Satu bunga ikut diletakkan lagi di depan nisan Eld.

“Oluo,” Satu bunga lagi juga ikut diletakkan di depan nisan Oluo.

“Petra,”

Aku terdiam sejenak. Aku tidak dapat bergerak secara tiba-tiba. Aku ingin sekali mengambil bunga itu dan segera berkata, “Jangan khawatir, Korporal. Berikan saja langsung padaku. Terima kasih banyak, Korporal!”

Aku ingin sekali..

Tapi, di manakah Korporal akan meletakkan bunga untukku itu sekarang?

Tidak, tidak diletakkan di mana-mana. Mungkin kata-kata yang lebih tepat adalah ‘tidak dapat diletakkan di mana-mana Korporal masih menggenggam bunga itu. Mungkin karena belum menemukan tempat di mana bunga itu bisa diletakkan dengan baik.

Lagi dan lagi, aku tidak dapat menahan emosiku. Air bening kembali mengalir untuk ke sekian kalinya dalam hari ini. Aku merasa tersentuh melihat adanya bunga yang disediakan untukku.

“Korporal..”

Tidak, meskipun semua yang aku ucapkan akan sia-sia, tidak apa. Aku tidak dapat lagi menahan semua ini di dalam benakku. Sembari membiarkan air mataku kembali mengalir deras.

 “..aku..” lirihku lagi dengan pelan, dengan dadaku yang terasa sangat sesak. Aku menarik nafas dengan sedikit kesulitan, kemudian melengkapi kalimatku. “... terima kasih,” Senyuman lega aku sunggingkan secara tulus, meskipun sirat rasa perih dapat aku pastikan terlihat jelas di iris mataku.

“Bahkan sampai hari ini, Korporal masih mengingat saya dan mau menyia-nyiakan waktu berharga Korporal untuk menyediakan bunga bagi saya,” lanjutku tercekat. Ini baru dua hari, tapi aku tidak berpikir Korporal akan masih mengingatnya.

Ah, aku tahu aku sangat bodoh. Lebih bodoh dari apapun.. Seperti yang sudah aku katakan, Korporal tidak akan bisa melihat dan mendengarkanku, lebih lagi untuk menyahuti semua yang akan aku ucapkan nanti. Tapi, selagi masih ada kesempatan yang diberikan untuk aku berbicara, aku ingin mengungkapkan semuanya kepada Korporal. Sebelum waktuku habis dan kembali ke Sana.

Aku rasa aku sudah tahu kenapa Tuhan membiarkanku tertahan di sini..

Aku memainkan jari tanganku dengan tatapan mata yang tidak beraturan. Terkadang aku melihat ke bawah, terkadang aku memandang sosok belakang Korporal, terkadang pula aku mendongak untuk melihat rasi bintang malam ini.

“Sebenarnya..”

Karena ada sesuatu yang masih harus aku lakukan..

“..saya masih ingin bisa melakukan hal yang lebih untuk mengutarakan rasa terima kasih ini kepada Korporal,”

Aku menghela nafasku sambil tersenyum sedih, lagi.

“Dan sebenarnya..”

Lidahku terasa kelu mengucapkannya. Mulutku menjadi sedikit kaku. Kata-kata ini benar-benar menyakitku dan membuat kalimatku menjadi tercekat, tapi aku ingin mengutarakan hal ini. Meski tidak akan didengar, aku mohon, biarkan kata-kata ini keluar..

“..saya masih ingin berada di dunia ini,”

Air mataku kembali mengalir deras saat bibirku akan berucap lagi. Aku tahu, pasti mataku sudah merah dan bengkak. “Tapi saya sudah tidak bisa, Korporal. Maafkan saya,”

“Saya sudah begitu banyak merepotkan dan merisaukan Korporal. Saya juga terlalu banyak bersikap nekat tanpa dasar kebijaksanaan apapun. Saya tidak begitu banyak berjasa, bahkan sampai saya di bawah pimpinan Korporal. Karena saya hanya bisa seperti ini, jadi..”

Nada suaraku semakin rendah. Terlalu banyak yang mengalir sampai beberapa tetes jatuh ke tanah. Aku mencoba menstabilkan intonasi suaraku lagi, sembari mencoba mengurangi isakan tangisku yang semakin menjadi-jadi. Korporal Levi tampak masih duduk bertumpu pada lututnya, meski aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang. Mungkin di dalam hati ia mengumpat-umpatku karena aku yang semasa hidupku benar-benar mengganggunya.

“..sungguh, saya..”

Aku menarik nafasku perlahan sehingga intonasiku benar-benar stabil untuk berucap kata-kata ini.

“..terima kasih, Korporal,”

Aku menyeka air mataku sejenak, kemudian melanjutkan lagi, “Satu-satunya alasan saya bisa bertahan sampai saat terakhir saya..” Kali ini aku bisa menyunggingkan senyumanku seperti biasa dengan tulus, tanpa harus terpaksa dan tanpa ada sirat cahaya kesedihan. “..hanyalah karena Korporal yang membuat saya kuat,”

.
.

Di mana pun dan kapanpun

Dirimu

Pancaranmu tetap sampai padaku

Sebagai kekuatanku

.
.

“Sejak pertama kali saya bertemu Korporal, saya tahu bahwa Korporal tidak akan tersenyum dengan mudahnya. Tapi saya dapat melihat senyum yang ada di balik sosok Korporal. Sejak itulah, saya percaya akan adanya keajaiban. Dan saya telah bertekad untuk selamanya..” lirihku lagi dengan intonasi yang sedikit terganggu akibat tangisku yang belum reda seutuhnya. “..untuk mengabdi kepada Korporal dan seluruh umat manusia,”

“Karena saya tahu kekuatannya,”

Aku menarik nafasku dan berjalan selangkah lebih dekat lagi kepada Korporal. Sampai aroma Korporal yang biasa dapat aku rasakan, dan dapat membuat hatiku menjadi sakit lagi.

Hentikan.

“Korporal, meski masa depan itu masih jauh..” jari telunjuk tangan kananku menari-nari di udara, seolah-olah seperti orang bodoh jika aku yang melakukannya. “..meskipun saya juga telah berubah seiring waktu dari pertama kali Korporal bertemu dengan saya. Tapi, saya tidak pernah ingin untuk hanya bermimpi saja. Saya tidak pernah ingin melepaskan rasa abdi saya pada Korporal,”

Ukiran senyum tulusku kembali aku sunggingkan, meski lebih tipis dari sebelumnya.

Tidak, aku tahu meski tipis, senyuman ini lebih tulus dari sebelumnya.

“Saya hanya berharap berada di jalan yang sama dengan Korporal,” bisikku ragu dengan pelan. “Meski tidak mungkin, meski tidak terjadi, meski tidak ditakdirkan seperti itu. Hanya itu yang saya ingin,”

Aku sedikit tersentak dan kaget sekaligus malu setelah mengucapkan hal itu, seolah aku lupa bahwa Korporal tidak akan mendengarnya. Aku tertawa getir dan berekspresi seperti orang bodoh yang berharap-harap, lalu mundur ke tempatku yang semula. Mencoba menjaga jarak dengan Korporal, karena aku tahu Korporal tidak begitu suka dan hanya akan.. membuat hatiku menjadi sakit juga.. Aku memukul kepalaku sendiri, mencoba menunjukkan senyumku yang seperti biasa. “Ahahaha, maafkan kekurangajaran saya, Korporal,” sesalku berpura-pura lugu.

Korporal Levi terlihat berdiri dan berbalik dengan ekspresinya yang masih seperti biasa. Ia seolah menatapku. Seolah menatap ragaku yang masih ada di dimensinya. Rasa sakit semakin menjalari benakku menyadari kenyataan seseorang tidak akan melihat makhluk dimensi lain.

“Korporal..”

Hentikan, Korporal, jangan menatapku seperti itu. Ini semakin sakit.

Aku tersentak dan mengerjapkan mataku, menyadari Korporal meraih tanganku – yang seharusnya tidak bisa diraih – dan meletakkan bunga itu di tanganku.

“Korporal?”

Cukup, Korporal..

“Untuk semuanya, terima kasih juga,

Korporal Levi meninggalkanku dengan cepat, bahkan sebelum rasa sakit sekaligus rona merah ini muncul di ke dua pipiku. Saat aku sadari bahwa tubuhku semakin transparan dan tidak mampu mengejar sumber kekuatanku itu. Aku mencoba berlari ke arahnya dengan tubuh yang semakin transparan.

Tapi, aku semakin tidak ingin pergi..

Aku mencoba berlari dengan kakiku yang rasanya tidak mau berkompromi dengan keinginan dan kebutuhanku itu.

Ittai.. Ittai!7

Hontou ni..” rintihku pelan. Ada rasa sakit saat tubuh ini akan menghilang. Aku terus berusaha untuk berlari ke arah ke mana Korporal melangkah “.. arigatou!!8

Terima kasih, Korporal, batinku yang berhasil memeluk sosok Korporal dari belakang, beberapa saat sebelum aku akan bereinkarnasi menjadi bintang.

.
.

Menyusul teman-temanku yang lain

.
.

Arigatou ne, Heichou

.
.

Even separate by long road
If you close your eyes, my heart will be there for you
Even it’s feeling like there’re left to lose
If you know all about me, all of my feeling is for you
Even you’re walking in the dark
I’ll be a shine star in the night sky just to help you
          Because I always wanna to be your side
Because you make my life complete

Someday will come
When we can meet again
Surely
OWARI
1Kitto = Aku yakin
2Yuuhi no kagayaki = Sinar matahari senja
3Nani o ... ? = Apa yang ... ?
4U-Uso .. ! = B-Bohong .. !
5Mada = Belum
6Setsunaku naru mo = Akan menyakiti(ku) juga
7Ittai = Sakit
8Hontou ni arigatou = Terima kasih banyak
A/N :
Karena saya begitu galau membuatnya, saya tidak akan menulis panjang-panjang.
Semoga fanfiksi ini dapat menghibur kalian semua!
Wanna to review? Arigatou!

Bagaimana? Oh ya, mungkin fontnya beda karena ini langsung Miichan copypaste dari Ms. Word di laptop Miichan tanpa diedit. Maaf ya. Dan Author Note di bawah juga harusnya nggak ada kan, karena sudah ada paragraf ini? Tapi maaf ya, Miichan begitu malas ._.

Jyaa mata ne~

5 komentar:

  1. TT^TT )bb lanjutkan miichan #Hiks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaa, ternyata Shacchi mau baca juga fanfiksi yang panjangnya Naudzubillah ini, sampai nangis begitu :" *ikutnangis* Padahal Annokun aja nggak mau baca -_-

      Makasih udah komentar, datang lagi ya, Shacchi ^^)/

      Hapus
    2. Shacchi lagi tertarik sma fanfic Miichan nih.. Kok aku liat fanfic yg SNK cmn 2? Aku menunggu FF SNK Miichan yg lain.. ^^)b

      Hapus
    3. Cuma 1 malah, Cchi ._. Yang 1 lagi kan cuma minjem nama dari Om Hajime. Huaa, Miichan pengen bikin fanfic cuma masih banyak tugas T^T

      Hapus
    4. Cuma 1 malah, Cchi ._. Yang 1 lagi kan cuma minjem nama dari Om Hajime. Huaa, Miichan pengen bikin fanfic cuma masih banyak tugas T^T

      Hapus

Tinggalkan jejak dengan bahasa yang baik. Terima kasih.. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...