Selasa, 21 Januari 2014

Kini, Dia Telah Bermetamorfosis

krismeskeos.wordpress.com

Kini, Dia Telah Bermetamorfosis

Perlahan, semburat kemerahan muncul di ufuk timur. Lambat memang, tapi matahari naik dengan pasti. Semakin tinggi dan menampakkan seluruh wujud aslinya.

Dari balik jendela rumah, sebuah pohon dapat terlihat. Daun-daunnya yang hijau tampak segar, terhias oleh gas-gas yang mengembun. Orang-orang mulai beraktivitas seperti biasa.

"Okaasan! Ada ulat bulu di pohon halaman rumah kita!"

Namun, jeritan seorang anak perempuan memecah damainya pagi itu--hanya karena  ulat yang merayap hati-hati di batang pohon, lalu mulai mengunyah dedaunan yang didapatinya.

"Jangan dipegang, Hikari!" teriak seorang wanita berteriak dari dalam rumah, tak kalah keras dari sang anak.

"Menjijikkan!"

Tapi, si ulat bulu, tanpa peduli tetap melakukan kegiatan hariannya, meski kerap kali mendengar makian seperti itu.

Apapun yang terjadi, akulah diriku.

Hingga matahari terbenam, terbit, terbenam, terbit, dan terus berulang, akhirnya di batang pohon tersebut, aku tak melihat lagi si ulat kecil yang selalu dicaci. Si ulat yang kesehariannya hanya menghabiskan daun. Si ulang yang kesehariannya pula tak lepas dari ucapan sinis para manusia.

Dia menjadi kepompong. Menggantung di ranting pohon. Sinar matahari terkadang menyorotnya, terkadang juga tidak. Daun-daun di sekitar yang menghalanginya. Kadang pula, angin sore membuatnya berayun pelan, bahkan sampai seolah akan terlepas dari porosnya bila badai tiba.

Tapi kepompong itu.. tetap bertahan di sana.

Apapun yang terjadi, aku tetap pada pendirianku.

Malam yang gelap kembali tersinar oleh cahaya sang mentari. Samar-samar kepompong itu merekah. Merekah, merekah, dan merekah. Sampai sesuatu keluar.

Itukah si ulat?

Kalau tidak ada teori ilmiah, aku tidak akan percaya. Bahwa si ulat yang sudah kecil, jelek, dan tidak berdaya, berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah.

Sayap-sayap kaku itu mulai dikepakkannya--dilatarbelakangi pohon-pohon berhiaskan embun, disoroti cahaya raja siang.

Akan tetapi, kembali, jeritan anak perempuan bagaikan membelah langit.

"Okaasan! Lihat! Ada kupu-kupu!"

"Wah, sugoi! Dia sangat cantik!"

Cantik? Bukankah kemarin mereka menyebut kata 'menjijikkan'?

Namun, sekarang, ke mana pun kupu-kupu itu terbang mengembangkan sayapnya yang indah, mata mereka terus mengikuti, setelah hari sebelumnya mereka menghina tanpa tahu malu.

Karena hempasan angin kencang hanya menyisakan tumbuhan yang kokoh.
Karena kikisan hujan badai hanya menyisakan batu yang sangat kuat.
Karena gemuruh petir hanya menyisakan kaca yang tidak mudah retak.
Karena lampu sorot hanya menyinari mereka yang pantas.

Mungkin dia terlahir sebagai telur yang tidak berdaya, lalu berubah menjadi ulat yang dipandang sebelah mata--bahkan dipandang pun tidak. Ketika menjadi kepompong, dia tidak akan diperhatikan. Tapi begitu raganya memiliki sepasang sayap yang memukau, semua cercaan berganti dengan tepuk tangan.

Hidup bukan tentang lahir, bernapas, kemudian mati.
Hidup bukan sekadar bermain dan bergembira seperti anak kecil.
Hidup bukan  menyebutkan apa yang kita mau dan menikmati apa yang kita ingin.
Hidup bukan yang seperti ini, bukan yang seperti itu, karena hidup adalah sesuatu yang kompleks.

Hidup merupakan sebuah metamorfosis.

Dan kini, dia telah bermetamorfosis!

2 komentar:

  1. Miichan.. :O Keren! (b><)b Miichan pinter bikin Fanfic, ya.. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. B-Benarkah? Syukurlah Annisa menyukai fiksi yang Miichan kira gagal ini T^T)a

      Miichan belum pinter bikin fanfic, Annisa. Masih banyak kekurangannya kalau dibanding senpai dunia fanfic yang lain T^T Miichan masih belajar ^^

      Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar, ya, Annisa ^^)/

      Hapus

Tinggalkan jejak dengan bahasa yang baik. Terima kasih.. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...