Kamis, 08 Desember 2016

That's What We Called Proud

Saya bersekolah seperti remaja pada umumya. Saya berangkat pukul enam dan kembali kurang lebih pukul empat, kadang-kadang pukul setengah tujuh. Banyak hal yang saya pelajari di sekolah--wajar memang. Namun, saya pernah mendapat pelajaran yang jauh lebih berharga, justru di luar sekolah.

Oleh mereka yang bukan guru--tidak pernah dianggap guru.

Seorang tukang becak telah menyadarkan saya.

Rabu, 05 Oktober 2016

Serampang Dua Belas? Jadikan Warisan Dunia!

Medan. Medan itu sudah kasar, serampangan pula. Masih untung banyak masyarakatnya yang bersuara emas dan memenangi kontes-kontes menyanyi nasional. 

Makanya, jan sepele kali ko sama Medan ini, wak.

Medan, begini-begini juga, di dalamnya ditemukan sejuta panorama indah yang menyimpan sejarah masing-masing di baliknya. Medan juga memiliki berbagai kebudayaan dan seni. Tidak hanya itu, dari sudut ke sudut, berjejer sajian kuliner penggugah air liur yang siap dihajar--tapi pastikan kamu membawa dompet yang berisi, kalau bisa tebal sekalian.

Balek kita ke topik.

Medan juga kaya akan etnis. Batak, misalnya, yang selalu diidentikkan dengan Medan. Orang Jawa pun bertebaran di berbagai daerah Kota Medan, begitu pula mereka yang bersuku Minangkabau atau Nias, apalagi Tionghoa. Sementara itu, penguasa daerah Kampung Keling justru orang-orang bermata belo, berkulit eksotis, dan berhidung yang mancungnya membuat terpana. Namun, nyatanya, etnis aslinya adalah Melayu. 

Salah satu ikon kota Medan, yang biasanya menjadi tempat wisata wajib, adalah Istana Maimun. Coraknya? Jelas, Melayu. Tepatnya, Melayu Deli.

Hasil gambar untuk maimun
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...